PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, kita memuji dan memohon pertolongan-Nya, dan kita meminta ampun serta berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kita dan amal-amal kita. Kita bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhaq diibadahi dengan benar selain Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Menuntut ilmu syar’i merupakan amal yang sangat mulia, bahkan seorang yang pergi menuntut ilmu seperti halnya orang yang pergi berjihad sampai ia kembali. Namun perbuatan yang baik ini jika tidak diiringi dengan metode belajar yang benar justru akan menjadi tidak teratur dan semrawut. Maka dari itu sangat penting bagi setiap penuntut ilmu untuk memperhatikan bagaimanakah cara belajarnya.
Ilmu Didapat Secara Bertahap
Seseorang yang tidak sabar ingin menelaah seluruh judul buku/kitab kerapkali berbuntut pada kebosanan dan dan akhirnya malah putus. Semangatnya begitu membara di awal, tetapi setelah itu padam tanpa bekas. Jadi sebenarnya apa masalahnya? Masalahnya adalah metode pembelajaran yang tidak berjenjang dan tidak memprioritaskan penguatan kaidah dasar (ta’shili), yaitu bertahap dimulai dari tahap awal kemudian meningkat ke jenjang yang lebih tinggi dan seterusnya. Dan adalah seorang yang cerdas ia mengambil ilmu sedikit demi sedikit sesuai dengan kadar kemampuannya, dengan semangat juang yang tinggi. Karena ilmu itu seperti tangga, untuk bisa mencapai bagian puncak dari tangga maka ia harus memanjat dari bawah terlebih dahulu, jika ia mamaksakan untuk langsung menuju puncak, maka ia tidak akan mampu atau akibatnya ia akan celaka.
Ketahuilah, jika engkau tergesa-gesa ingin memasukkan seluruh pelajaranmu, niscaya engkau justru akan kehilangan seluruhnya, karena ilmu didapat seiring dengan berjalannya siang dan malam, seteguk demi seteguk dengan penuh kesabaran, bukan sekali dua kali duduk atau sekali dua kali baca. Ingatlah firman Allah, “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Hud: 49)
Mulailah dari yang Paling Penting
Dalam Ilmu dien, maka seseorang harus menguasai dasar yang kokoh sebagai bekal baginya untuk mendalami Ilmu syariat. Barangsiapa tidak memulai dari hal yang mendasar/pokok, maka ia tidak akan mendapatkan cabangnya. Hal terpenting yang harus engkau pelajari saat ini adalah ilmu tauhid, karena tauhidlah sumber kebahagiaan dunia dan akherat. Selain itu, kenalilah lawan dari tauhid yaitu syirik dengan perinciannya. Sebab jika engkau tidak kenal dengan syirik maka secara tidak sadar engkaupun jatuh di dalamnya.
Bergurulah!!
Adakalanya seseorang belajar ilmu syar’i hanya dari buku yang ia baca semata. Metode ini memiliki beberapa sisi negatif, di antaranya yaitu butuh waktu yang lama, ilmunya lemah, dan kadang kita jumpai seseorang yang seperti ini banyak terjatuh dalam kesalahan karena lemahnya pemahaman atau karena buku yang dibacanya sesat dan menyesatkan. Dengan adanya guru, maka dialah yang akan membimbingmu dan membetulkanmu jika engkau salah dan waktu yang engkau butuhkan untuk belajar menjadi lebih singkat.
Hendaklah seseorang melihat kepada siapa ia mengambil ilmu, carilah guru yang berakidah dan bermanhaj sebagaimana para sahabat, memegang teguh sunnah Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam, jauh dari hawa nafsu, lepas dari kebid’ahan dan memiliki cara mengajar yang baik.
(Disarikan dari Kitabul-Ilmi Syaikh Utsaimin dan dari kajian-kajian ilmiah)
LATAR BELAKANG
Tatkala semangat ini mulai lesu…
Tatkala jiwa ini mulai bosan dan jemu…
Untuk apa kita melakukan semua itu…
Apakah hanya sekedar membuang-buang waktu…
Tentu tidak wahai saudaraku…
Ilmu lah yang akan membahagiakan diriku dan dirimu…
Kobarkanlah semangat menuntut ilmu…
Wahai Saudaraku…
Sebagaimana halnya makanan, yang dipergunakan manusia untuk kelangsungan hidup. Seandainya keimanan tidak dipupuk dengan ilmu, maka ibarat tanaman menjadi layu bahkan hancur.
Sehingga tidaklah terwujud keberadaan iman seorang kecuali dengan ilmu. Al Imam Ahmad menyatakan: “Manusia sangat membutuhkan ilmu dari sekedar menyantap makanan dan minuman; karena makanan dan minuman dibutuhkan oleh manusia sekali atau dua kali dalam sehari. Sedangkan ilmu ilmu dibutuhkan setiap saat.” (Thobaqot Al Hanabilah 1/147)
Bahkan seluruh makhluk Allah sangat butuh kepada ilmu. Karena tidak akan tegak urusan makhluk kecuali dengan ilmu. Langit-langit dan bumi bisa berdiri kokoh adalah dengan ilmu, begitu pula diturunkannya para rasul dan kitab-kitab-Nya juga dengan ilmu. Serta tidak akan diketahui perkara halal-haram kecuali dengan ilmu. Oleh karena itu, kewajiban seseorang dalam menuntut ilmu syar’i berlangsung hingga menjelang wafat.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menyampaikan dakwah dan nasehat hingga menjelang wafat beliau. Diriwayatkan oleh Al Hakim di dalam Mustadraknya dan dia berkata: -di atas syarat dua syaikh- dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Dua keinginan yang tidak pernah merasa puas darinya: Keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya, dan keinginan terhadap dunia dan tidak pernah merasa puas darinya.”
Nabi menjadikan keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya sebagai komitmen iman dan sifat-sifat kaum mukminin. Oleh karena itu para imam kaum muslimin apabila dikatakan kepada mereka: “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” Maka dia mengatakan: “Sampai wafat!”
Nu’aim bin Hammad berkata: “Aku mendengar Abdullah ibnul Mubarak radhiyallahu ‘anhu berkata -sekelompok kaum mencelanya karena beliau sering menuntut ilmu hadits. Maka mereka mengatakan: “Sampai kapan engkau mendengarkan (hadits)? Beliau menjawab: “Sampai mati!”
Al Hasan bin Manshur Al Jashshosh berkata: “Aku mengatakan kepada Ahmad bin Hambal radhiyallahu ‘anhu: “Sampai kapan engkau akan menulis hadits?” Maka beliau mejawab: “Hingga wafat!”
Abdullah bin Muhammad Al Baghawi berkata: “Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: “Sesungguhnya aku menuntut ilmu sampai masuk ke liang kubur.”
Muhammad bin Isma’il As Shooigh berkata: “Aku tinggal bersama ayahku di Baghdad, kemudian lewat di hadapan kami Ahmad bin Hambal dalam keadaan memegang sandal. Lantas ayahku menarik bajunya, dan berkata: “Wahai Abu Abdillah (panggilan Ahmad bin Hambal), apakah engkau tidak malu! Sampai kapan engkau menuntut ilmu? Beliau menjawab: “Sampai mati!”
Demikianlah beberapa perkataan para ulama yang menerangkan begitu semangatnya mereka dalam menuntut ilmu. Sehingga mereka mencurahkan waktu dan tenaga untuk meraih lezatnya ilmu.
LANDASAN
Firman Allah Ta’ala:
” Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung .” {QS. Ali ‘Imran: 104}
“ Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedangkan kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan) .” {QS. Albaqarah: 272}
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki, dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. ” {QS. Albaqarah: 261}.
Sabda Rasulullah:
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Berinfaqlah kamu, niscaya Aku memberi infaq kepadamu’ .” [Muttafaq 'alaih]
“Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya .” [HR. Muslim dan lainnya]
” Tidak akan berkurang harta seseorang karena bersedekah “. [HR. Muslim]
TUJUAN
1. Umum :Menghidupkan da’wah Islam sesuai Al Qur’an dan AsSunnah berdasarkan pemahaman Salaful Ummah.
2. Khusus :Memenuhi kebutuhan kaum muslimin untuk menuntut ilmu syar’i dimulai dari ilmu-ilmu ( kitab- kitab ) dasar Islam.
VISI
“Menjadi Pusat Syiar Islam yang Amanah, Mandiri, Kompetitif dan Profesional”
MISI
“Membentuk generasi muslim yang berakhlaqul karimah dan menegakkan Al- Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman Salaful Ummah“
Fokus Kegiatan
FKI An-Nashihah ini memfokuskan diri dalam pembinaan umat secara khusus yang diwujudkan dalam bentuk pengadaan kursus membaca Al-Quran, bahasa arab dasar, kajian kitab intensif, dan perintisan mahad.
Pembinaan umat secara umum diwujudkan dalam bentuk penyebaran buletin dakwah At-Nashihah, pengelolaan situs dakwah annashihah.org dan facebook an-nashihah, penyelenggaraan kajian umum bulanan dan lainnya.
Team da’wah An Nashihah
Ketua : Teguh Untara
Bid. Da’wah : Ustadz Asdi Nawawi, Agus, Hasanuddin, Priono, Rendi, Khobir, Abu Yahya
Humas & Perizinan : M.Ikhsan & Ruslan